Bahaya!! Nomor HP Mustofa Nahrawardaya Dikloning Orang Lain

JAKARTA (Manjanik.net) – Pengurus Majelis Pustaka dan Informasi (MPI) PP Muhammadiyah, Mustofa Nahrawardaya menyatakan bahwa nomor telepon genggamnya atau HP miliknya dibajak (dikloning). Ia mengatakan mendapatkan banyak pesan singkat (SMS) yang mengumpat dan mencaci-maki.

“Salah seorang penerima SMS yang mengaku sebagai anggota polisi, menelepon saya dan mengaku tersinggung dengan isi SMS yang dikirim dari nomor saya tersebut. Namun ketika saya coba korek informasi, apa bunyi SMS yang diterimanya, orang tersebut justru bertambah marah. Dia bersikukuh bahwa seharusnya saya-lah yang tahu isi SMS, karena yang mengirim adalah saya,” katanya pada Ahad (12/2/2017).

Mustofa mengatakan, beberapa penerima SMS palsunya mengaku mendapat kiriman pada pagi hari ini. Isi pesan tersebut adalah himbauan agar tidak mengikuti aksi-aksi yang dapat berpotensi menimbulkan konflik. “Ternyata, penerima SMS ini tidak terima, dan marah karena tersinggung,” tambahnya.

Mustofa mengatakan sejak semalam tidak henti-hentinya telepon dan pesan singkat silih berganti masuk ke telepon genggamnya. Dan rata-rata berisi tidak terima karena dikirimi pesan singkat yang berasal dari nomor yang ia pakai.

“Karena terganggu, saya coba langkah antisipasi dan langkah pengamanan sementara, dengan cara menonaktifkan nomor HP saya. Namun ketika HP saya aktifkan kembali 12 (dua belas) jam kemudian, ternyata banjir SMS dan telepon umpatan kepada saya,” ujarnya.

Mustofa heran karena merasa tidak pernah mengirimkan pesan singkat ke orang-orang tersebut. Saat ia cek di kotak keluar juga tidak ada pesan singkat yang ia kirim. Beberapa hari lalu, Mustofa mengaku akun surat elektroniknya (email) juga dicuri. Selain itu akun media sosialnya seperti Instagram, Twitter, Facebook dan ID Apple miliknya juga dicuri.

“Namun hingga saat ini, saya tidak tahu siapa pelaku pencurian ini. Bagaimana bisa mereka mencuri semua akun media sosial milik saya?,” jelasnya.

Mustofa bercerita pertengahan bahwa Desember 2016 lalu, tiga (3) mobil berisi enam anggota Polisi mendatangi rumahnya. Anggota polisi tersebut dari Unit Cyber Polda Metro Jaya yang ingin mengklarifikasi karena ada laporan bahwa ia memposting dokumen rahasia.

“Tapi lagi-lagi, saya tidak merasa melakukan hal-hal seperti itu. Akhirnya, Polisi hanya meminta IMEI saya. Minggu lalu, tepatnya 4 Februari 2017, HP saya yang IMEI nya diminta anggota (polisi –red), tiba-tiba dilock oleh sistem Android,” ucapnya.

Kemarin malam ia berencana akan melaporkan kasus kloning Kartu GSM-nyatersebut ke Grapari. Ia menginginkan penjelasan, bagaimana ada pihak yang bisa melakukan pengiriman pesan singkat menggunakan nomor telepon genggam miliknya. [AH/rol]