Saat Akhwat Buat Pasport Wajahnya Dilihat Petugas Laki-Laki, Gimana Hukumnya?

(Manjanik.net) – Gimana tadz kalo ada yang berkata gini, “daripada sibuk wara-wiri ngurusi pasport untuk ke luar negeri baik belajar ilmu syar’i atau dan kepentingan lainnya seperti hijrah, yang disitu ngrelain wajah si akhwat dilihat ajnabi/laki-laki bukan mahromnya (pas potonya), lebih baik perbanyak i’dad dan belajar ilmu”. Bagaimana jawaban yang benar sesuai syari’ah menanggapi pendapat diatas? [Nin via Telegram]

Jawaban Ustadz Qutaibah [Pengampu Rubrik Konsultasi Manjanik.net]

Wa’alaikumsalam warahmatullahi wabarokatuh… Alhamdulillah was-sholatu wassalam ‘ala Rasulillah wa ba’du… Pertama-tama yang harus kita ketahui dan fahami adalah hukum hijrah itu sendiri. Disini kami akan membaginya menjadi tiga (3) hal:

  1. Hukum hijrah dari darul kufri (negara Kafir) menuju darul Islam (negara Islam ) adalah fardhu ‘ain bagi setiap individu kaum Muslimin baik laki-laki ataupun perempuan, dan sudah tidak terhitung lagi nash-nash ataupun pendapat para ulama yang menyatakan kewajibannya serta ancaman keras bagi yang meninggalkan dan menyepelekan amalan hijrah ini.
  1. Sudah menjadi tabi’at atau sifat utama ibadah hijrah adalah akan selalu penuh dengan kesibukan, kerepotan, tantangan dan bahkan tidak akan lepas dari ancaman dan bahaya. Maka jangan berangan-angan hijrah jika yang dibayangkan kemudahan tanpa mau kesulitan dan kerepotan. Allah ta’ala berfirman:

لَوْ كَانَ عَرَضًا قَرِيْبًا وَّسَفَرًا قَاصِدًا لَّاتَّبَعُوْكَ وَلٰـكِنْۢ بَعُدَتْ عَلَيْهِمُ الشُّقَّةُ     ؕ  وَسَيَحْلِفُوْنَ بِاللّٰهِ لَوِ اسْتَطَعْنَا لَخَـرَجْنَا مَعَكُمْ   ۚ  يُهْلِكُوْنَ اَنْفُسَهُمْ  ۚ  وَاللّٰهُ يَعْلَمُ اِنَّهُمْ لَـكٰذِبُوْنَ

“Sekiranya (yang kamu serukan kepada mereka) ada keuntungan yang mudah diperoleh dan perjalanan yang tidak seberapa jauh, niscaya mereka mengikutimu, tetapi tempat yang dituju itu terasa sangat jauh bagi mereka. Mereka akan bersumpah dengan (nama) Allah, “Jikalau kami sanggup niscaya kami berangkat bersamamu.” Mereka membinasakan diri sendiri dan Allah mengetahui bahwa mereka benar-benar orang-orang yang berdusta”. (QS. At-Taubah 9 : 42)

  1. Menurut pendapat yang kuat bahwa larangan menampakkan wajah bagi Muslimah bukanlah pengharaman dzati, tetapi pengharamannya karena bisa mengantar kepada hal yang diharamkan (sadda dzari’ah), yaitu karena bisa mengantar kepada perzinahan dan semisalnya.

Sedangkan para ahli ilmu telah menetapkan bahwa sesuatu yang diharamkan dengan alasan mencegah terjadinya kerusakan, dapat dibolehkan jika terdapat maslahat yang lebih besar. Sebagaimana kaidah ushul fiqih menyebutkan, “Hal yang diharamkan dengan bentuk saddu dzari’ah dibolehkan sesuai kadar keperluannya bila ada keperluan yang dibenarkan oleh syari’at”.

Jadi jelaslah bahwa hanya keperluan membuka wajah bagi wanita Muslimah untuk membuat pasport dengan tujuan yang lebih besar dan mulia, yakni hijrah sebagai sarana untuk menyelamatkan dien (agamanya) dari darul kufri menuju darul Islam adalah dibolehkan, tapi berusaha untuk tetap menutupnya adalah yang lebih didahulukan dan diutamakan.

Hal ini juga bisa di qiyaskan dengan larangan keluar rumah bagi wanita Muslimah tanpa mahram, di mana pengharamannya dikarenakan mampu menghantarkan kepada hal-hal yang haram dan keburukan. Akan tetapi para ulama telah bersepakat akan bolehnya seorang wanita keluar tanpa mahram untuk keperluan safar wajib seperti hijrah dari darul kufri menuju darul Islam.

Imam Nawawi rahimahullah berkata,

وقد قال القاضي واتفق العلماء على أنه ليس لها أن تخرج في غير الحج والعمرة إلا مع ذي محرم، إلا الهجرة من دار الحرب، فاتفقوا على أن عليها أن تهاجر منها إلى دار الإسلام وإن لم يكن معها محرم، والفرق بينهما أن إقامتها في دار الكفر حرام إذا لم تستطع إظهار الدين، وتخشى على دينها ونفسها

“Qadhi (Iyadh) telah berkata dan para ulama telah bersepakat bahwa tidaklah perempuan keluar untuk selain haji dan umrah kecuali bersama mahram. Kecuali hijrah dari Darul Harbi, maka para ulama bersepakat bahwa ia wajib untuk berhijrah dari Darul Kufri ke Darul Islam meskipun tidak bersama mahram. Perbedaan antara keduanya bahwa tinggalnya dia di Darul Kufri itu haram jika tidak bisa menampakkan agama dan takut atas agama dan dirinya”. (Syarh Muslim 9/104)

Ibnu Mulqin rahimahullah berkata:

أما سفر الهجرة من دار الحرب إلى دار الإسلام فاتفق العلماء على وجوبه، وإن لم يكن معها أحد من محارمها

“Adapun safar untuk hijrah dari Darul Harbi ke Darul Islam maka para ulama telah bersepakat atas wajibnya hal itu meskipun seorang perempuan tidak bersama mahramnya”. (Al I’lam bi Fawaid Umdatil Ahkam 6/79)

Begitu pula apa yang dilakukan oleh sebagian shahabiyyah seperti ummu Salamah yang nekat melakukan hijrah ke Madinah meskipun tidak bersamanya mahramnya, yang kemudian Rasulullah pun tidak melarangnya.

Jadi jelaslah bahwa hari ini dengan tegaknya Daulah Khilafah Islamiyyah, maka hukum hijrah menjadi fardhu ‘ain bagi setiap Muslim baik laki-laki atau perempuan yang mampu untuk melaksanakannya, terlebih semakin beratnya mempertahankan iman dan juga sulitnya mengamalkan banyak syari’at Islam, tentunya juga untuk i’dad dan belajar dien dengan benar. Maka dengan kondisi seperti itu, tentu berhijrah sangat lebih ditekankan dan diwajibkan. Wallahu a’lam… [TMJ]