Gimana Hukum Pasutri yang Sudah Cerai Secara Syar’i, Tapi Masih Bersama dengan Alasan Demi Anak & Ortunya?

(Manjanik.net) – Ust, gmn hukumnya pasutri yg sdh cerai secara syari krn pernikahan mereka sdh rusak (baik suami/istri sdh sering minta cerai) nekat tetap berduaan/melanjutkan hubungannya (bersama –red) dgn alasan demi anaknya &untuk bahagiakan ortunya. Sbb mereka dulu dinikahkan oleh ortuny si wanita. Apakah mereka berhubungan itu gpp atau msk dlm kategori zina? Jazakallah.. [Tri Yuniarti via WA]

Jawaban Ustadz Qutaibah [Pengampu Rubrik Konsultasi Manjanik.net]

Wa’alaikumsalam warahmatullahi wabarokatuh… Alhamdulillah was-sholatu wassalam ‘ala Rasulillah wa ba’du… Sebelumnya kami sampaikan permohonan maaf terlebih dahulu karena keterlambatan kami dalam merespon pertanyaan yang masuk. Hal ini karena banyaknya pertanyaan yang masuk, dan kami harus menyeleksi terlebih dahulu mana yang harus kami jawab terlebih dulu.

Apabila pasangan suami-istri (pasutri) bercerai dan suami tidak melakukan rujuk kepada istrinya sampai selesainya masa ‘iddah sang istri, maka sang istri sudah bukan mahram lagi bagi suaminya tersebut, akan tetapi mereka bisa rujuk dengan mengulang lagi akad nikahnya.

Inilah yang dinamakan dengan ba’in bainunah shugra (istri bisa dinikahi lagi oleh mantan suaminya tanpa

harus nikah dulu dengan laki-laki lain). Hal ini berlaku bagi istri yang sudah pernah ditalak satu atau dua. Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman,

اَلطَّلَاقُ مَرَّتٰنِ ۖ  فَاِمْسَاكٌ ۢ بِمَعْرُوْفٍ اَوْ تَسْرِيْحٌ ۢ بِاِحْسَانٍ   ؕ وَلَا يَحِلُّ لَـکُمْ اَنْ تَأْخُذُوْا مِمَّآ اٰتَيْتُمُوْهُنَّ شَيْــئًا اِلَّاۤ اَنْ يَّخَافَآ اَ لَّا يُقِيْمَا حُدُوْدَ اللّٰهِ  ؕ  فَاِنْ خِفْتُمْ اَ لَّا يُقِيْمَا حُدُوْدَ اللّٰه ۙ ِ فَلَا جُنَاحَ عَلَيْهِمَا فِيْمَا افْتَدَتْ بِهٖ  ؕ  تِلْكَ حُدُوْدُ اللّٰهِ فَلَا تَعْتَدُوْهَا ۚ  وَمَنْ يَّتَعَدَّ حُدُوْدَ اللّٰهِ فَاُولٰٓئِكَ هُمُ الظّٰلِمُوْنَ

“Talak (yang dapat dirujuk) itu dua kali. (Setelah itu suami dapat) menahan dengan baik atau melepaskan dengan baik. Tidak halal bagi kamu mengambil kembali sesuatu yang telah kamu berikan kepada mereka, kecuali keduanya (suami dan istri) khawatir tidak mampu menjalankan hukum-hukum Allah. Jika kamu (wali) khawatir bahwa keduanya tidak mampu menjalankan hukum-hukum Allah, maka keduanya tidak berdosa atas bayaran yang (harus) diberikan (oleh istri) untuk menebus dirinya. Itulah hukum-hukum Allah, maka janganlah kamu melanggarnya. Barang siapa melanggar hukum-hukum Allah, mereka itulah orang-orang zalim.” (QS. Al-Baqarah 2 : 229)

Sedangkan, jika suami sudah berkali-kali atau sampai tiga kali menalak istrinya, maka semenjak jatuh talak ketiga itu, si istri sudah bukan lagi mahram dengan suaminya. Inilah yang dinamakan dengan talak ba’in bainunah kubra.

Dan setelah talak yang ketiga itu, sang suami tidak bisa lagi rujuk atau menikah kembali dengan istrinya tersebut kecuali setelah istri menikah dengan laki-laki lain (bukan dengan niat agar halal kembali kepada suami pertamanya) dan telah berhubungan suami-istri dalam pernikahan tersebut, lalu terjadi perceraian antara mereka.

Allah Ta’ala berfirman, “Kemudian jika si suami menalaknya (sesudah talak yang kedua), maka perempuan itu tidak lagi halal baginya hingga dia kawin dengan suami yang lain. Kemudian jika suami yang lain itu menceraikannya, maka tidak ada dosa bagi keduanya (bekas suami pertama dan istri) untuk kawin kembali jika keduanya berpendapat akan dapat menjalankan hukum-hukum Allah. Itulah hukum-hukum Allah, diterangkan-Nya kepada kaum yang (mau) mengetahui.” (QS. Al-Baqarah 2 : 230)

Dan jika si istri sudah bukan lagi mahram bagi suaminya atau mantan suaminya dengan berbagai hal yang mendasarinya, seperti hubungan pernikahan keduanya sudah rofa’ (rusak), maka haram dan dosa besar hukumnya bagi keduanya untuk berdua-duaan dan bersama, karena hukumnya sama dengan zina, yaitu berdua-duaannya antara laki-laki dan wanita yang sudah bukan mahramnya dan tidak halal bagiya.

Hal ini sebagaimana yang ditegaskan dalam hadist Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Ketahuilah! Seorang laki-laki tidak boleh bermalam di rumah perempuan janda, kecuali jika dia (janda atau wanita tersebut) telah menikah, atau ada mahramnya.” (HR. Muslim)

Dalam hadits Nabi lainnya diriwayatkan, Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma berkata, “Saya mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berkhutbah, “Janganlah sekali-kali seorang laki-laki berduaan dengan perempuan kecuali dengan ditemani mahramnya, dan janganlah seorang perempuan melakukan perjalanan kecuali bersama mahramnya.” Lalu seorang laki-laki bangkit seraya berkata, “Wahai Rasulullah, istriku berangkat hendak menunaikan haji sementara aku diwajibkan untuk mengikuti perang ini dan ini.” Beliau bersabda, “Kalau begitu, kembali dan tunaikanlah haji bersama istrimu.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Dalam salah satu khutbahnya dihadapan kaum Muslimin, Khalifah Umar bin Khattab radhiyallahu ‘anhu menyebutkan hadits dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, yang diantara isinya adalah, “Janganlah salah seorang diantara kalian berduaan dengan seorang wanita (yang bukan mahramnya) karena setan adalah orang ketiganya.” (HR. Tirmizi, al-Nasa’i, Ahmad, dan Hakim)

Oleh karena itu, segala sesuatu yang menyebabkan seorang laki-laki dapat berdua-duaan dengan wanita asing (bukan mahramnya), atau melihat aurat yang tidak boleh dilihat oleh yang bukan mahramnya, meskipun itu mantan istrinya, maka hukumnya adalah haram dan dosa besar, walaupun itu dengan tujuan untuk kebahagiaan anak-anak ataupun orang tuanya. Dan meskipun mereka tidak sekamar atau bahkan tidak serumah, maka berdua-duaan atau berhubungan yang bukan mahram maka hukumnya tetaplah haram.

Bagi pasutri yang sudah bercerai namun memiliki anak dari hubungan pernikahannya tersebut, maka untuk mengasuh dan membahagiakan anak, kedua orang tuanya tidak harus berada dalam satu rumah atau berdua-duaan terus karena hal itu jelas melanggar syariat. Sedangkan pasutri yang sudah bercerai namun memilih tetap bersama dengan alasan untuk membahagiakan orang tuanya, maka hal itu juga tidak dibenarkan.

Karena untuk membahagiakan anak atau orang tua tidak boleh dengan cara melanggar syariat dan berbuat  maksiat kepada Allah Ta’ala. Seorang anak memang diperintahkan untuk berbakti kepada kedua orang tuanya, selama tidak menyuruh berbuat maksiat dan syirik kepada Allah. Allah berfirman,

وَإِنْ جَاهَدَاكَ عَلَى أَنْ تُشْرِكَ بِي مَا لَيْسَ لَكَ بِهِ عِلْمٌ فَلَا تُطِعْهُمَا وَصَاحِبْهُمَا فِي الدُّنْيَا مَعْرُوفًا

“Jika keduanya memaksamu untuk berbuat syirik dengan mempersekutukan aku yang tidak ada pengetahuanmu tentang itu, maka janganlah kamu mengikuti keduanya, dan pergaulilah keduanya di dunia dengan baik.” (QS. Luqman 31 : 15)

Karena inilah syari’at yang Allah turunkan kepada orang-orang beriman. Maka tidak ada kebahagiaan bagi kita yakni kaum Muslimin kecuali dengan tunduk dan patuh terhadap apa yang Allah Ta’ala turunkan, meskipun menurut akal dan nafsu kita, syari’at itu adalah berat dan menyulitkan.

Dan wajib pula bagi kita sebagai orang beriman untuk meyakini bahwa semua yang diperintahkan oleh Allah pasti akan mendatangkan kebaikan, begitu pula semua hal baik yang kecil atau besar yang dilarang oleh Allah, pasti didalamnya mengandung berbagai kemadharatan. Wallahu a’lam… [TMJ]