Misteri Sosok Pria di Masjid Sebelum Penangkapan Siyono, Densus 88 Muslim atau Kafir?

KLATEN (Manjanik.net) – Ada sesuatu yang belum terungkap di media massa manapun terkait dengan teka-teki dan kejadian sebelum penangkapan Siyono (34 tahun), warga Dusun Brengkungan, Rt.11/05, Desa Pogung, Kecamatan Cawas, Kabupaten Klaten, Jawa Tengah (Jateng) beberapa waktu lalu.

Siyo, panggilan akrab Siyono, diketahui ditangkap Densus 88 pada Selasa (8/3/2016) malam seusai melaksanakan sholat Maghrib berjama’ah di Masjid Muniroh, Dusun Brengkungan, Desa Pogung yang berada disebelah timur rumah Siyo. Namun baru 3 hari ditangkap Densus 88, Siyo meninggal dunia pada Jum’at (12/3/2016). Dugaan kuat, Siyo disiksa Densus 88 dengan cara sadis ketika di interogasi.

Namun ada satu misteri yang hingga kini masih menjadi perbincangan para tentangga Siyo dan warga Desa Pogung. Sebelum ditangkap, sekitar 3 hari sebelumnya, ada satu orang asing yang tidak dikenal warga sekitar juga ikut sholat di masjid tersebut.

Setelah Siyo ditangkap dan meninggal dunia, ternyata baru diketahui warga sekitar bahwa orang tersebut adalah anggota Densus 88 yang sedang menyamar dan mengintai SIiyo. Untuk diketahui bersama, menurut penurut Pak Marso Siyono, ayah Siyo, anaknya itu baru dirumah 3 hari sebelum ditangkap. Sebelumnya, Siyo bekerja di Gorontalo.

Menurut keterangan pihak keluarga, saat itu Siyo sedang menjadi imam sholat Maghrib berjama’ah di Masjid Muniroh. Setelah sholat Maghrib, Siyo kemudian melanjutkan sholat sunnah setelah Maghrib. Baru selesai salam, Siyo langsung didekati tiga (3) orang tidak dikenal, dan langsung digelandang keluar masjid.

“Setelah sholat sunnah ba’diyah (setelah) Maghrib, saya dan sejumlah warga lainnya masih berada di masjid. Tiba-tiba ada 3 orang gak dikenal itu kok mendekati Siyo dan langsung menggelandang Siyo sambil berkata, nggo mas nderek kulo (mari mas ikut saya),” kata Pak Marso, ayah kandung Siyo kepada Manjanik.net pada Jum’at (11/3/2016) malam di rumah Siyo.

“Setelah keluar dari masjid, Siyo lalu dimasukkan ke dalam mobil seperti Avanza warna hitam dan langsung berjalan ke arah barat. Saat digelandang keluar masjid, Siyo masih dalam kondisi mengenakan sarung, baju koko dan peci. Saat itu tidak ada tindak kekerasan yang dilakukan 3 OTK pada saat Siyo dimasukkan ke dalam mobil,” jelas Pak Marso.

Sementara itu, menurut penuturan tetangga, Wagimin (nama samaran) yang juga ikut sholat berjama’ah, dirinya sudah curiga dengan keberadaan orang asing yang kerap lewat di sebelah selatan masjid dan melihat kearah masjid, namun tidak ikut sholat.

“Pada hari Selasa lalu waktu sedang berlangsung shalat Maghrib berjama’ah di Masjid Muniroh ini, ada satu orang yang tidak dikenal warga setempat ikut sholat Maghrib yang saat itu di imami (yang menjadi imam) mas Siyo sendiri,” ujar Wagimin kepada Manjanik.net pada Jum’at (11/3/2016) malam di teras Masjid Muniroh.

“Saat mas Siyo sedang posisi sujud di rakaat pertama, orang tidak dikenal (OTK) tersebut awalnya berada di shaf (barisan) pertama dan berada di shaf paling utara untuk menunggu rakaat kedua. Saat itu, saya baru datang langsung berada di shaf kedua,” jelasnya.

“Tapi anehnya, meskipun sudah melakukan takbiratul ikram, orang asing ini tiba-tiba langsung mundur ke belakang di shaf kedua yang bersebelahan dengan saya dan warga lainnya. Saat mau ruku’ di rakaat kedua,  orang ini kentut, “brut brut brut”. Anehnya, meski sudah batal, orang ini tidak segera keluar dari shaf dan wudhu kembali untuk sholat. Bahkan orang ini malah ikut ruku’ rakaat kedua meski sudah kentut,” lanjutnya.

“Sontak saja hal itu buat cah-cah cilik (anak-anak kecil) yang berada di shaf kedua cekikian (ketawa kecil). Bahkan saya sampai-sampai ingin ikut ketawa lantaran perilaku aneh orang ini. Pada saat mau sujud di rakaat kedua, orang ini kemudian keluar dari shaf sholat Maghrib berjama’ah,” ucapnya.

“Anehnya lagi, orang ini bukannya berwudhu untuk melanjutkan sholat Maghrib berjama’ah, ee malah menelfon seseorang. Hal itu saya ketahui menurut penuturan ibu-ibu setempat yang juga ikut sholat Maghrib berjama’ah. Setelah selesai sholat Maghrib berjama’ah, orang ini tidak lagi melanjutkan sholatnya. Ia justru duduk di teras masjid yang berada di sebelah timur sambil mengobrol dengan 2 orang lainnya. Saya waktu itu menduga 2 orang itu adalah orang yang barusan ditelfon oleh orang yang ikut sholat tadi,” ucapnya.

“Setelah sholat Maghrib berjama’ah dan sholat sunnah ba’diyah (setelah) Maghrib itu saya langsung keluar untuk pulang kerumah lewat pintu masjid sebelah selatan. Pada saat keluar, saya melihat 3 orang yang terlihat asing itu mengobrol di teras bagian timur dan ada mobil Avanza berwarna hitam terparkir di sebelah selatan masjid dalam kondisi mesin masih hidup,” tandasnya.

“Mobil Avanza itu setau saya pada saat akan berangkat sholat Maghrib berjama’ah memang sudah berada di perempatan jalan yang berada di sebelah timur masjid dengan jarak kira-kira 50 meter. Setelah pulang, saya sudah tidak tahu lagi dan baru mendengar dari tetangga lain soal penangkapan Siyo. Cuma saya heran, kalau dia itu Densus, sakjane Densus itu Muslim atau Kafir sich,” ujarnya.

Dan jika melihat apa yang terjadi dengan kondisi jenazah Siyo yang penuh luka memar dan lebam, serta kondisi Fajar Can Bima maupun terduga teroris lainnya, tak heran jika banyak masyarakat dan tokoh yang mendesak agara Densus 88 dibubarkan. Pasalnya Densus 88 sering menyiksa dan menembak mati tanpa proses hukum yang sah.

Bahkan Wasekjen MUI Pusat, KH Tengku Zulkarnaen beberapa waktu lalu pernah mendesak Kapolri dan Presiden agar membubarkan Densus 88. Saat itu Tengku menegaskan bahwa mayoritas anggota Densus 88 adalah orang-orang Kafir. Maka tak heran jika perilakunya begitu sadis terhadap umat Islam.

Sedangkan Ketua LUIS, Edi Lukito SH juga pernah mengungkapkan hal serupa saat beraudiensi dengan Kapolresta Solo beberapa waktu lalu. Saat itu Edi Lukito mengungkapkan fakta bahwa dirinya tidak heran dengan perilaku sadis dan kejam Densus 88 terhadap umat Islam yang dituduh teroris, namun tumpul menghadapi teroris OPM di Papua atau RMS di Maluku.

Sebab data yang ia miliki, mayoritas anggota Densus 88 memang orang-orag Kafir yang dilatih oleh orang-orang Kafir dari Australia dan Amerika Serikat (AS) yang sangta benci dengan umat dan aktivis Islam yang gencar menyuarakan penegakan syari’at Islam.

Selain itu dari hasil analisa LUIS, tim yang di terjunkan dalam setiap operasi dan sebagian besar anggota Densus 88 adalah orang Kafir. Bahkan orang Kafir yang fanatik yang kemudian di tugaskan untuk menangkap bahkan mengeksekusi secara langsung di TKP kelompok teroris yang dicurigai tersebut beragama Islam. [MRN/GA/dbs]