Siapa yang Berhak Memilih Pemimpin? Ulama atau Masyarakat?

Oleh: Ustadz Abu Raihan

(Manjanik.net) – Alhamdulillah, shalawat serta salam semoga senantiasa Allah limpahkan kepada Nabi kita, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, juga kepada keluarga dan para sahabatnya, serta orang-orang yang setia mengikuti sunnah dan jalannya hingga akhir zaman.

Saat ini negara-negara yang mayoritas berpenduduk Muslim sedang menghadapi cobaan berat dalam memilih pemimpin (kepala negara) mereka melalui cara pemilihan umum (pemilu), yang hal ini merupakan penerapan sistem Demokrasi yang sudah dikenal.

Padahal untuk diketahui bersama, terdapat perbedaan yang sangat jauh antara sistem Demokrasi dan syariat Islam dalam memilih pemimpin, yang ini dijelaskan oleh banyak ulama dari kalangan Ahlu Sunnah Wal-Jama’ah.

Untuk menjabarkan penjelasan masalah ini, kaum Muslimin bisa merujuk kepada sejumlah kitab yang ditulis atau dikarang oleh para ulama besar Ahlu Sunnah Wal-Jama’ah yang tentunya konsisten dalam menyampaikan ilmu dan amal perbuatannya, serta konsisten memegang tauhid dan menjauhi syubhat tentang “Keadilan Yang Hakiki Ada Pada Syariat Islam dan Bukan Pada Sistem Demokrasi Yang Dielu-Elukan”.

Pemilu dalam sistem Demokrasi telah diketahui bersama, yaitu dilakukan dengan cara seorang Muslim atau Kafir, baik laki-laki atau wanita yang memilih seseorang atau beberapa orang tertentu sebagai calon Presiden. Gubernur, Bupati atau Walikota. Semua wanita dan laki-laki juga ikut memilih, tanpa mempertimbangkan dan membedakan orang yang banyak berbuat maksiat atau orang sholih yang taat kepada Allah dan Rasul-Nya.

Semua itu jelas merupakan pelanggaran terhadap syariat Islam. Padahal sesungguhnya para sahabat saat itu yang membai’at dan memilih Abu Bakar Ash-Shiddiq radhiyallahu ‘anhu sebagai Khalifah atau pemimpin kaum Muslimin sepeninggal Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam di Saqiifah (ruangan besar beratap tempat pertemuan) milik suku Bani Saa’idah, tidak ada satu orang perempuan pun yang ikut serta dalam pemilihan tersebut.

Sebab sudah diketahui bersama bahwa urusan siyasah (politik) tidak sesuai dengan tabiat (fitrah) kaum perempuan, sehingga mereka tidak boleh ikut berkecimpung didalamnya. Bahkan yang lebih ironi lagi, ada pula seorang wanita yang menjadi pemimpin dalam sistem Demokrasi itu. Dan ini termasuk pelanggaran terhadap syariat Islam. Padahal Allah Ta’ala telah berfirman:

وَلَيْسَ الذَّكَرُ كَالْأُنْثَى

“Dan laki-laki tidaklah seperti perempuan.” (QS. Ali ‘Imran 3 : 36)

Allah juga berfirman, “Kaum laki-laki itu adalah pemimpin bagi kaum wanita.” (QS. An-Nisaa’ 4 : 34)

Rasulullah shallallahu ‘alahi wa sallam juga bersabda,

عَنْ أَبِي بَكْرَةَ، قَالَ: لَمَّا بَلَغَ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنَّ أَهْلَ فَارِسَ قَدْ مَلَّكُوا عَلَيْهِمْ بِنْتَ كِسْرَى قَالَ: «لَنْ يُفْلِحَ قَوْمٌ وَلَّوْا أَمْرَهُمُ امْرَأَةً».

Diriwayatkan dari Abu Bakrah, katanya: Tatkala sampai berita kepada Rasulullah bahwa orang-orang Persia mengangkat raja puteri Kisro (Kaisar), Beliau shallallahu ‘alahi wa sallam bersabda: Tidak akan pernah beruntung keadaan suatu kaum yang menyerahkan kepemimpinannya pada seorang wanita”. (HR. Bukhari, Tirmidzi dan An-Nasa’i)

Para pembaca situs online Manjanik.net yang dirahmati Allah, inilah ilmu yang harus diketahui dan ditaati. Maka bagaimana kalian wahai para penganut sistem Demorasi yang menyamakan antara laki-laki dan wanita untuk ikut memilih dalam sistem Demokrasi dengan alasan mengambil madhorot yang paling kecil?? Padahal Allah yang menciptakan dua jenis manusia ini membedakan antara keduanya?! Allah Ta’ala berfirman:

وَرَبُّكَ يَخْلُقُ مَا يَشَاءُ وَيَخْتَارُ مَا كَانَ لَهُمُ الْخِيَرَةُ

“Dan Rabbmu menciptakan apa yang Dia kehendaki dan memilihnya, sekali-kali tidak ada pilihan bagi mereka.” (QS. Al-Qashash 28 : 68)

Di ayat lain Allah Ta’ala juga berfirman:

أَفَنَجْعَلُ الْمُسْلِمِينَ كَالْمُجْرِمِينَ مَا لَكُمْ كَيْفَ تَحْكُمُونَ

“Maka apakah patut Kami menjadikan orang-orang Islam itu sama dengan orang-orang yang berdosa (orang Kafir). Mengapa kamu (berbuat demikian); bagaimanakah kamu mengambil keputusan?”. (QS. Al-Qalam 68 : 35 – 36)

Sementara itu kalian wahai para penganut sistem Demokrasi baik yang bergelar sarjana, diploma, doktor, cendekiawan, profesor atau “ulama” menyamakan antara orang Muslim dan orang Kafir, laki-laki dan juga wanita dalam satu kesempatan yang sama?!? Maka ini tidak mungkin terjadi dan sebuah penyesatan kepada umat dan masyarakat.

Akan tetapi bersamaan dengan itu, ada sebagian orang –orang yang di”ulama”kan pada zaman sekarang ini berpendapat bolehnya ikut serta dalam pemilu dalam rangka untuk memperkecil kerusakan dalam keadaan terpaksa. Meskipun mereka mengatakan bahwa hukum asal ikut dalam pemilu adalah tidak boleh atau haram. Mereka mengatakan: “Kalau seandainya semua orang diharuskan ikut serta dalam pemilu, maka apakah anda ikut memilih atau tidak? Mereka berkata: anda ikut memilih dan pilihlah orang yang paling sedikit keburukannya diantara mereka para kandidat yang ada”.

Tapi ketahuilah, karena umumnya mereka yang akan dipilih adalah orang-orang yang memasukkan  atau mencalonkan diri mereka sendiri dalam pemilihan tersebut, maka hal itu akan menjadi kehinaan bagi yang mencalonkan diri dan hal ini akan memberikan keburukan kedepannya bagi umat.

Padahal Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda kepada Abdurrahman bin Samurah radhiyallahu ‘anhu: “Janganlah engkau (berambisi) mencari kepemimpinan, karena sesungguhnya hal itu adalah kehinaan dan penyesalan pada hari kiamat nanti.” (HR. Bukhari no. 6248 dan Muslim no. 1652)

Untuk itu para pembaca Manjanik.net yang dirahmati Allah, orang yang terpilih dalam pemilu adalah orang yang berambisi mencari kepemimpinan, padahal Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Barangsiapa yang (berambisi) mencari kepemimpinan maka dia akan diserahkan kepada dirinya sendiri (tidak ditolong oleh Allah dalam menjalankan kepemimpinannya).” (HR. at-Tirmidzi, Ibnu Majah dan lain-lain, dinyatakan lemah oleh syaikh al-Albani dalam “adh-Dha’iifah” (no. 1154). Lafazh hadits yang shahih riwayat al-Bukhari dan Muslim: “Jika engkau menjadi pemimpin karena (berambisi) mencarinya maka engkau akan diserahkan kepadanya (tidak akan ditolong oleh Allah).”

Calon pemimpin yang modelnya seperti itu, maka Allah akan meninggalkannya yakni tidak menolongnya, dan barangsiapa yang diserahkan kepada dirinya sendiri maka berarti dia telah diserahkan kepada kelemahan, ketidakmampuan dan kesia-siaan, sebagaimana yang dinyatakan oleh salah seorang ulama salaf – semoga Allah meridhai mereka–.

Maka dari itu, Isalm telah mengajarkan dan mencontohkan kepada umat Islam sejak zaman para sahabat hingga ulama salaf, bahwa yang berhak dalam memilih pemimpin adalah para ulama dan orang-orang sholih karena merekalah yang pantas untuk memilihnya. Setelah terpilih, insya Allah pemimpin tersebut akan bisa melayani masyarakat dan menerapkan hukum dan syariat Allah secara kaffah di muka bumi untuk kemasalahatn seluruh manusia, baik itu dia orang Islam maupun orang Kafir.

Namun jika urusan kepemimpinan ini diserahkan kepada umat dan masyarakat yang beragam dan beraneka macam latar belakangnya, ada yang sholih, pendosa, pemabuk, pezina, pencuri dan lain sebagainya seperti sistem Demokrasi seperti sekarang ini, maka akan sangat mustahil bisa memunculkan pemimpin yang adil, baik, sholih dan mengayomi masyarakat.

Dalil logikanya adalah, jika dalam sebuah kota itu dihuni oleh mayoritas orang-orang yang sukanya berbuat kerusakan dan maksiat, maka tentu saja dia tidak akan memilih pemimpin yang sholih dan taat kepada Allah. Sedangkan dari segi dalil nash syari telah banyak dijelaskan oleh para ulama bahwa urusan kepemimpinan itu harus diserahkan dan dipilih oleh para ahlinya dalam masalah ilmu agama. Wallahu a’lam.. [TMJ/dbs]