Sahabat Utsman Bin Affan Membeli Jannah dengan Bersedekah

(Manjanik.com) – Jama’ah Jum’ah rahimakumullah… Sahabat Utsman bin Affan radhiyallahu ‘anhu memiliki nama lengkap, Utsman bin Affan bin Abil ‘Ash bin Umayyah bin Abdusy Syams bin Abdu Manaf bin Qushai bin Kilab bin Murrah bin Ka’ab bin Luwa’i bin Ghalib bin Fihr bin Malik bin an-Nadhr bin Kinanah bin Khuzaimah bin Mudrikah bin Ilyas bin Mudhar bin Nizar bin Ma’addu bin Adnan.

Beliau radhiyallahu ‘anhu memiliki hubungan kekerabatan yang sangat dekat dengan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Utsman lahir pada akhir tahun 574 Masehi, tepatnya empat tahun setelah kejadian penyerangan Ka’bah oleh pasukan gajah yang dipimpin oleh Raja Abrahah.

Beliau radhiyallahu ‘anhu masuk Islam atas ajakan Abu Bakar Ash-Shidiq radhiyallahu ‘anhu, yaitu sesudah Islamnya Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu dan Zaid bin Haristah radhiyallahu ‘anhu. Beliau adalah salah satu sahabat besar dan utama Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, serta termasuk pula golongan as-Sabiqun al-Awwalin, yaitu orang-orang yang terdahulu masuk Islam dan beriman terhadap kenabian Muhammad.

Utsman bin Affan mendapatkan gelar Dzunnurain (pemilik dua cahaya) dikarenakan menikahi 2 putri Rasulullah, yaitu Ruqayyah dan Ummu Kultsum. Dan diantara kelebihan dari sahabat Rasulullah yang bernama Usman bin Affan ini adalah sifat pemalunya. Rasulullah pernah menyatakan, “Orang yang paling kasih sayang dari umatku ialah Abu Bakar, dan yang paling teguh dalam memelihara ajaran Allah ialah Umar, dan yang paling bersifat pemalu ialah Utsman”. (HR. Ahmad, Ibnu Majah, Al-Hakim dan Tirmidzi)

Karena sifat pemalu yang dimiliki oleh Usman bin Affan itulah yang menjadikan ia seorang yang dermawan dan penuh belas kasih, sampa-sampai dia disebut sebagai “Orang yang membeli syurga dua kali dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam“.

Sebagaimana yang disampaikan oleh Imam al-Hakim, Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu berkata, “Utsman bin Affan telah membeli surga dua kali dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam”. Masya Allah, lalu dengan amalan apakah sahabat Utsman ini membeli surga dari nabi, bahkan sampai dua kali?

Lanjut Abu Hurairah dalam riwayat yang dikutip oleh Dr. Raghib as-Sirjani dalam buku “Siapa Membeli Surga” ini, “Yaitu, ketika dia membeli mata air tawar dan membiayai seluruh pasukan jihad Jaisyul ‘Usrah pada Perang Tabuk”. Sehingga Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melantunkan do’a untuk Utsman bin Affan, “Tidak akan ada sesuatu yang dapat membahayakan Utsman dengan apa yang dia lakukan hari ini. Ya…! Allah, ridhailah Utsman, sesungguhnya aku ridha kepadanya”.

Jama’ah Jum’ah rahimakumullah… Ternyata kedermawanan Ustman bin Affan tidak cukup disitu.. coba kita tengok kisah menakjubkan dari kedermawanan seorang Utsman bin Affan. Diriwayatkan tentang kedermawanan Utsman bin Affan terhadap kaum Muslimin khususnya kepada agama Allah adalah seperti di bawah ini.

Ketika kaum Muslimin hijrah dari Makkah ke Madinah, mereka dihadapkan pada masalah kesulitan air, dimana di Madinah ada sebuah sumur, tapi sumur itu milik seorang Yahudi dan sengaja airnya diperdagangkan. Hijrahnya kaun Muslimin ke Madinah amat menggembirakan bagi orang Yahudi tersebut karena memberinya kesempatan untuk memperoleh uang yang banyak dari hasil penjualan airnya.

Oleh karena itu Rasulullah sangat mengharapkan ada salah seorang sahabat yang mampu membeli sumur itu untuk meringankan beban kaum Muhajirin yang telah menderita karena harta benda mereka ditinggalkan di kota Makkah.

Mengetahui kejadian seperti itu, Usman bin Affan bergegas pergi ke rumah orang Yahudi tersebut untuk membeli separuh sumur tersebut. Setelah terjadi tawar menawar, maka disepakatilah harga separuh sumur itu 12.000 dirham, dan dengan perjanjian satu hari menjadi hak orang Yahudi itu, dan keesokan harinya adalah hak Usman bin Affan atas sumur tersebut.

Pada giliran hak pakai Usman bin Affan, kaum Muslimin bergegas mengambil air yang cukup untuk kebutuhan dua hari. Dengan demikian si Yahudi merasa rugi, karena pada giliran hak pakai dirinya terhadap sumur itu tidak ada lagi kaum Muslimin yang membeli air padanya. Orang Yahudi tersebut mengeluh kepada Utsman, dan akhirnya menjual separuhnya kepada Utsman dengan harga 8.000 dirham. Sumur itu mengalirkan air yang melimpah bagi kaum Muslimin dengan gratis.

Jama’ah Jum’ah rahimakumullah… Bentuk kedermawanan Utsman bin Affan lainnya adalah pada masa pemerintahan Abu Bakar Ash-Shidiq, ketika kaum Muslimin dilanda paceklik yang dahsyat. Mereka mendatangi khalifah Abu Bakar seraya berkata, “Wahai.. khalifah Abu Bakar..! Langit tidak menurunkan hujan dan bumi kering tidak menumbuhkan tanaman, dan orang-orang meramalkan bakal terjadi bencana besar, maka apa yang harus kita lakukan..?”

Abu Bakar menjawab, “Pergilah dan bersabarlah… Aku berharap sebelum tiba malam hari, Allah akan meringankan kesulitan kalian”.

Pada sore harinya ada serombongan kafilah dari Syam yang terdiri dari seribu unta yang mengangkat gandum, minyak dan kismis. Unta-unta itu kemudian berhenti di depan rumah Utsman bin Affan, lalu kafilah-kafilah itu menurunkan muatannya. Tak lama kemudian para pedagang (tengkulak) datang menemui Utsman dengan maksud ingin membeli barang-barang tersebut.

Lalu Utsman bin Affan berkata kepada mereka, “Dengan segala senang hati, berapa banyak keuntungan yang akan kalian berikan kepadaku..?” Mereka menjawab, “Dengan dua kali lipat.” Utsman menjawab, “Waduh sayang..! Sudah ada penawaran yang lebih tinggi dari kalian”.

Para pedagang itu kemudian menaikkan tawarannya empat sampai lima kali lipat, tetapi Utsman bin Affan tetap menolak dengan alasan sudah ada penawar yang akan menawar lebih tinggi lagi dari penawaran para pedagang tersebut.

Akhirnya para pedagang (tengkulak) semuanya menjadi penasaran, lalu berkata lagi kepada Utsman, “Hai Utsman, di Madinah ini tidak ada pedagang selain kami, dan tidak ada yang mendahului kami dalam penawaran, siapa orang yang berani menawar lebih tinggi dari kami..?”. Akhirnya Utsman menjawab, “Allah memberikan kepadaku sepuluh kali lipat, apakah kalian mau memberi lebih dari itu..?”

Mereka serempak mejawab, “Tidak..!” Utsman berkata lagi, “Aku menjadikan Allah sebagai saksi bahwa seluruh yang dibawa kafilah itu adalah menjadi sedekah untuk para fakir miskin dari kaum Muslimin. Aku ikhlas karena Allah, karena aku mencari ridha-Nya”. Masya Allah..

Apa yang dilakukan Utsman tidaklah mengherankan karena Allah SWT berfirman,

مَنْ جَاءَ بِالْحَسَنَةِ فَلَهُ عَشْرُ أَمْثَالِهَا ۖ وَمَنْ جَاءَ بِالسَّيِّئَةِ فَلَا يُجْزَىٰ إِلَّا مِثْلَهَا وَهُمْ لَا يُظْلَمُونَ

Barangsiapa membawa amal yang baik, maka baginya (pahala) sepuluh kali lipat amalnya. Dan barangsiapa yang membawa perbuatan yang jahat, maka dia tidak diberi pembalasan melainkan seimbang dengan kejahatannya, sedang mereka sedikit pun tidak dianiaya (dirugikan)”. (QS. Al-An’aam 6 : 160)

Sudah jelas sekali bahwa siapa saja yang datang dengan satu kebaikan maka akan di balas 10 kali lipat dari kebaikannya itu. Bila demikian, kenapa kita masih ragu untuk mengeluarkan sedekah dan meringankan kesulitan sesama kaum Muslimin??

Bahkan jika kita bersedekah 1 kali, maka akan dibalas 10 dan bahkan sampai 700 kali lipat, dan tentunya ini lebih dahsyat lagi. Untuk mereka yang bersedekah (berbuat kebaikan) akan dibalas 700 kali lipat kebaikan yang lain. Hal tersebut tertuang dalam Al-Qur’an surat Al-Baqarah ayat 261 yang artinya:

مَثَلُ الَّذِينَ يُنْفِقُونَ أَمْوَالَهُمْ فِي سَبِيلِ اللَّهِ كَمَثَلِ حَبَّةٍ أَنْبَتَتْ سَبْعَ سَنَابِلَ فِي كُلِّ سُنْبُلَةٍ مِائَةُ حَبَّةٍ ۗ وَاللَّهُ يُضَاعِفُ لِمَنْ يَشَاءُ ۗ وَاللَّهُ وَاسِعٌ عَلِيمٌ

Perumpamaan (nafkah yang dikeluarkan oleh) orang-orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah adalah serupa dengan sebutir benih yang menumbuhkan tujuh bulir, pada tiap-tiap bulir berisi seratus biji. Allah melipat gandakan (ganjaran) bagi siapa yang Dia kehendaki. dan Allah Maha Luas (karunia-Nya) lagi Maha mengetahui”.

Jama’ah Jum’ah rahimakumullah… Maka pada sore hari itu juga Utsman bin Affan membagi-bagikan seluruh makanan yang dibawa oleh kafilah dari Syam tadi kepada fakir miskin. Mereka semuanya mendapat bagian yang cukup untuk kebutuhan keluarganya masing-masing dalam jangka waktu yang lama.

Masya Allah… Itulah beberapa contoh kedermawanan seorang Utsman bin Affan, sehingga dari sikap dermawannya tersebut kebaikan demi kebaikan selalu mengalir pada dirinya, dan bahkan karena kedermawanan seorang Utsman bin Affan, sampai hari ini pun kaum Muslimin masih mampu merasakan hasil harta yang didermakannya.

Terbukti di kota Madinah pada hari ini ada aset hotel dan simpanan ATM dengan nama Utsman bin Affan yang dikelola oleh dewan wakaf Arab Saudi untuk kebutuhan kaum Muslimin, yang mana harta tersebut adalah harta Utsman yang dikelola oleh kaum Muslimin secara estafet pada setiap masa sejak 1.400 tahun yang lalu untuk kemakmuran umat Islam.

Masya Allah, inilah contoh istimewa dari sahabat Rasulullah yang sangat cinta dengan hartanya, sehingga kecintaan kepada harta menyebabkan harta itu ingin di nikmati bukan hanya di dunia, akan tetapi sampai di surga dengan selalu dikeluarkan untuk kemuliaan agama Islam. Wallahu a’lam… [Ustadz Qutaibah]