Satu Gugur, Seribu Komandan Menggempur!! Ketika Secercah Kerinduan Kembali Membuncah

Oleh: Abana Ghaida

(Manjanik.net) – Dewasa ini, di saat peperangan semakin sengit dan keras, hati kita seperti terombang-ambing di antara kegembiraan dan kesedihan. Terkadang dada kita terasa dingin sedingin es mendengar kemenangan mujahidin di suatu wilayah atau negeri. Namun di saat yang bersamaan, kadang dada terasa sesak mendengar kabar menyedihkan ketika para mujahid harus mundur dari wilayah atau negeri lainnya, atau tatkala mendengar kabar (kembali) syahidnya seorang komandan atau umaraa (petinggi).

Beberapa waktu silam, Daulah Islam dan dunia jihad kehilangan satu putra terbaiknya, yaitu Juru Bicara Resmi Khilafah Syaikh Abu Muhammad Al-‘Adnani Asy-Syami –semoga Allah menerima amal jihadnya. Kita berduka sekaligus gembira mendengarnya. Sedih karena takkan lagi mendengar pesan-pesan dalam audionya yang berapi-api penuh semangat menyeru dan mengagitasi kaum muslimin untuk berjihad dan bangkit dari keterpurukan.  Pesan-pesan yang juga tak ubahnya mata panah menghunjam di dada orang-orang kafir. Tapi kita bergembira, karena Syaikh Al-Adnani sukses merengkuh sebuah anugerah indah yang Allah berikan kepada setiap mujahid di medan jihad, yaitu kesyahidan.

Sekarang kita juga berbahagia karena Allah telah memberikan kegembiraan kepada kita dengan tampilnya suksesor Syaikh Al-‘Adnani Taqabbalahullah. Setelah ditunggu-tunggu oleh kaum muslimin secara umum, serta balatentara dan rakyat Daulah Islam secara khusus, Daulah Islam akhirnya menunjuk Juru Bicara (Jubir) resmi yang baru, yaitu Syaikh Abu Hasan Al-Muhajir yang tak kalah garang menyampaikan pesan-pesan menohok dada orang-orang kafir dan menggentarkan musyrikin internasional. Syaikh Abu Hasan langsung tampil menggebrak dunia melalui sebuah pidato perdana berjudul Fa Satadzkuruna Ma Aqulu Lakum (Kelak Kalian Akan Mengingat Apa yang Aku Katakan).

Dalam pidato berdurasi 24:48 menit yang dirilis Yayasan Al-Furqan Media itu, beliau banyak memberikan pesan dan nasehat untuk kaum muslimin, serta secara umum mengagitasi mereka untuk konsisten memerangi kekuatan-kekuatan kafir di muka bumi, terutama di Syam dan Irak. Dalam pidatonya, Abu Hasan juga mewasiatkan kepada mujahidin dengan wasiat Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam kepada Abdullah bin Abbas Radhiyallahu ‘Anhuma, bahwa kemenangan datang bersama kesabaran, dan kemudahan datang bersama kesusahan.

“Dan ketahuilah, bahwa di dalam kesabaran yang kalian benci itu sesungguhnya terdapat kebaikan yang banyak, dan sesungguhnya kemenangan itu bersama kesabaran, dan jalan keluar itu bersama dengan kesusahan, dan bahwasannya bersama kesulitan itu pasti ada kemudahan,” papar beliau mengutip hadits riwayat Imam Ahmad, sebagaimana dilansir Majalah Rumiyah 4.

Demikianlah, Allah senantiasa mengganti para tokoh pengusung kebenaran dengan menghadirkan sosok-sosok lain yang meneruskan estafeta panji kebenaran itu. Manhaj dan akidah lurus yang diyakini dan didakwahi oleh Daulah Islam ini mengajarkan kita untuk tidak menghentikan perjuangan jihad ini hanya karena syahidnya para komandan dan petinggi. Karena jihad sekali-kali tidak pernah bergantung kepada tokoh dan orang tertentu. Akidah kuat ini mesti menghunjam kokoh di dalam dada, takkan bisa tergoyahkan oleh angin syubhat (penyimpangan/kerancuan).

Menggantungkan amal jihad kepada tokoh, komandan, mujahidin, ikhwah istisyhadi, atau kepada kendaraan tempur dan persenjataan, merupakan bahaya besar yang mengancam kekokohan akidah jihad di dalam hati kaum muslimin sepanjang zaman. Sikap ini akan mematahkan prinsip; bahwa jihad akan tetap berlangsung dan relevan di setiap zaman. Bahkan, ini akan menjadi penghalang utama secara psikologis dan ideologis (manhaj), bagi seorang muslim yang hendak menapaki dan fokus di jalan jihad.

Allah Subhanahu wa Ta’ala mendidik para sahabat Rasulullah untuk hanya bertawakal kepada-Nya dan kepada agama-Nya. Allah menerangkan kepada mereka bahwa menggantungkan diri kepada tokoh adalah cara yang tidak benar, akan berdampak kepada tergantungnya perjuangan pada orang tersebut sehingga bisa jadi perjuangan berhenti dengan meninggalnya seorang tokoh.

Allah Ta‘ala melarang para sahabat menggantungkan diri mereka kepada tokoh-tokoh tertentu, bahkan kepada sosok makhluk terbaik sekalipun, yaitu Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam. Allah berfirman:

وَمَا مُحَمَّدٌ إِلاَّ رَسُوْلٌ قَدْ خَلَتْ مِنْ قَبْلِهِ الرُّسُلُ أَفَإِينْ مَاتَ أَوْ قُتِلَ انْقَلَبْتُمْ عَلَى أَعْقَابِكُمْ وَمَنْ يَنْقَلِبْ عَلَى عَقِبَيْهِ فَلَنْ يَضُرَّ اللهَ شَيْئاً وَسَيَجْزِي اللهُ الشَّاكِرِيْنَ

“Muhammad tidak lain adalah seorang rasul yang telah lewat sebelumnya para rasul. Apakah ketika dia meninggal atau terbunuh, kalian berbalik ke belakang? Barangsiapa yang berbalik ke belakang, tidaklah dia membahayakan Allah sedikitpun, dan Allah akan memberi balasan kepada orang-orang yang bersyukur.”

Ayat ini turun untuk mendidik para sahabat –semoga Allah meridhai mereka— juga melarang mereka untuk menggunakan methode (manhaj) yang rusak, yang bisa merusak ibadah; yaitu menggantungkan amal ibadah kepada orang tertentu.

Ayat tersebut turun terkait suatu peristiwa di Perang Uhud. Dikisahkan, kaum musyrikin berkumpul mengeroyok dan mengepung kaum muslimin dari segala penjuru. Kemudian orang-orang terbaik dan para komandan di barisan kaum muslimin menemui kesyahidan mereka, semisal Hamzah bin Abdul Muthalib, Mush’ab bin ‘Umair, dan lain-lainnya –semoga Allah meridhai mereka. Sampai hati para sahabat naik menyesak ke tenggorokan mereka, dan digoncangkan dengan goncangan yang sangat dahsyat. Tercatat sekitar lebih dari 70 sahabat syahid. Tiba-tiba muncul rumor di tengah-tengah barisan pasukan kaum muslimin bahwa pemimpin mereka, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, telah gugur.

Satu peristiwa genting dalam kejadian Perang Uhud tersebut dijelaskan panjang-lebar oleh Al-Hafizh Ibnu Katsir di dalam tafsirnya. Ibnu Katsir menulis, “Ketika Perang Uhud, di kala sebagian kaum muslimin mundur dan sebagian lagi terbunuh, setan berteriak, ‘Muhammad terbunuh!’ Ketika itu seorang bernama Ibnu Qami’ah kembali ke barisan kaum musyrikin seraya mengatakan, ‘Aku berhasil membunuh Muhammad.’ Padahal sebenarnya Rasulullah hanya terkena pukulan di bagian kepala, sehingga beliau terluka. Hal ini mengguncangkan hati kebanyakan kaum muslimin kala itu dan mereka menganggap Rasulullah sudah terbunuh. Mereka terlalu berlebihan membayangkan Nabi, seperti kisah kebanyakan nabi yang diceritakan Allah. Akhirnya, terjadilah kelemahan semangat, perasaan takut mati dan malas berperang. Saat itulah turun firman Allah: “Muhammad tidak lain adalah seorang rasul yang telah lewat sebelumnya para rasul…” (Lihat: Tafsir Ibnu Katsir, 1/540).

Maksudnya, Rasulullah pun sama dengan para rasul lainnya dalam mengemban risalah, dan beliau juga bisa dibunuh. Ibnu Abi Najih menuturkan dari ayahnya bahwasanya ada seorang lelaki dari Muhajirin yang melewati seorang lelaki Anshar yang sedang berlumuran darah, dia berkata, “Hai fulan, tahukah engkau, Muhammad sudah terbunuh.” Orang Anshar itu menjawab, “Jika Muhammad terbunuh, dia telah menyampaikan risalah, maka berperanglah membela agama beliau yang sekarang kalian yakini.” Maka turunlah ayat: “Muhammad tidak lain adalah seorang rasul yang telah lewat sebelumnya para rasul…” (Diriwayatkan oleh Al-Hafizh Abu Bakar Al-Baihaqi dalam kitab Dalaa`il An-Nubuwwah).

Kemudian Allah berfirman mengingkari kelemahan yang terjadi ketika itu: “Apakah ketika dia meninggal atau terbunuh, kalian berbalik ke belakang?” Artinya, siapa yang berbalik ke belakang, dia tidaklah membahayakan Allah sedikitpun, “dan Allah akan memberi balasan kepada orang-orang yang bersyukur,” mereka adalah orang-orang yang taat kepada Allah, berperang membela agama-Nya, mereka mengikuti rasul-Nya, baik ketika masih hidup atau sudah wafat. Kisah ini dapat dilihat di riwayat-riwayat shahih di dalam kitab-kitab hadits shahih, musnad, dan sunan.

Begitulah, jihad memerangi orang-orang kafir akan senantiasa berlangsung meski para panglima dan umaraa menjadi syuhada fi sabilillah. Jihad ini adalah salah satu syiar Allah; di antara prinsip baku terpenting yang takkan berubah adalah jihad terus berlangsung hingga Hari Kiamat. Rasulullah bersabda:

وَالْجِهَادُ مَاضٍ مُنْذُ بَعَثَنِيَ اللهُ إِلَى أَنْ يُقَاتِلَ آخِرُ أُمَّتِيْ الدَّجَّالَ لاَ يُبْطِلُهُ جُوْرُ جَائِرٍ وَلاَ عَدْلُ عَادِلٍ  

“Jihad akan tetap berjalan sejak Allah mengutusku, hingga umatku yang terakhir memerangi Dajjal, dia tidak akan dihentikan oleh kejahatan orang jahat ataupun keadilan orang adil.” (Sunan Abu Dawud, no. 2170)

Di dalam kitab ‘Aunul-Ma’bud (Syarh Sunan Abu Dawud) dijelaskan, “Jihad akan tetap berjalan sejak Allah mengutusku”, maksudnya sejak dimulainya era ketika Rasulullah diutus, “hingga umatku yang terakhir” maksudnya adalah Nabi Isa atau bisa juga Imam Mahdi.

Dikuatkan juga dengan hadits-hadits lain di dalam Shahih Al-Bukhari, Shahih Muslim, serta kitab hadits lain, Nabi bersabda:

لاَ تَزَالُ طَائِفَةٌ مِنْ أُمَّتِيْ يُقَاتِلُوْنَ عَلَى اْلحَقِّ ظَاهِرِيْنَ إِلَى يَوْمِ الْقِيَامَةِ  

“Akan senantiasa ada sekelompok dari umatku yang berperang di atas kebenaran, mereka menang, hingga Hari Kiamat tiba.”

Dalam lafazh Imam Al-Bukhari disebutkan:

لاَ يَضُرُّهُمْ مَنْ خَذَلَهُمْ وَلاَ مَنْ خَالَفَهُمْ  

“Tidak akan memudharatkan mereka orang yang melemahkan semangat dan menyelisihi mereka.”

Artinya, jihad tidak akan terpengaruh oleh segala hal yang dapat melemahkan semangat mujahidin, termasuk juga kematian para tokoh dan orang-orang shalih sekalipun. Redaksi hadits: “akan senantiasa ada” menjadi dalil eksistensi jihad hingga tiada lagi kekufuran di muka bumi ini.

Pada Perang Uhud, ketika berhembus rumor wafatnya Rasulullah, sebagian menyebarkan syubhat, “Seandainya dia nabi tentu tidak akan terbunuh.” Namun sebagian lagi yang memegang teguh manhaj lurus serta menaati Allah dan Rasul-Nya mengatakan, “Terus berperanglah kalian seperti nabi kalian berperang, sampai Allah menangkan kalian atau kalian menyusul nabi kalian.”

Dua perkataan tersebut merepresentasikan dua manhaj yang satu sama lainnya saling bertentangan. Orang-orang yang mengatakan: “Seandainya dia nabi, tentu tidak akan terbunuh” adalah mereka yang menapaki manhaj tercela; yaitu menggantungkan amal kepada seorang tokoh. Adapun orang-orang yang terus berperang sampai Allah memberikan kemenangan atau mereka syahid, adalah mereka yang berada di atas manhaj selamat lagi terpuji. Satu kelompok yang patah arang, dan kelompok lainnya yang yakin dengan janji dari Allah dan Rasul-Nya.

Sejatinya, menggantungkan jihad kepada orang-orang tertentu hanya akan membuahkan kekalahan yang jelas. Jikalau kekalahan itu tidak hadir di medan pertempuran, maka kekalahan itu menimpa aspek ma’nawi (moril), berwujud rasa futur (patah arang) dari berjihad. Ketika suatu saat nanti para komandan itu hilang, kita putus asa karena mengira kemenangan hanya bisa diraih dengan keberadaan Syaikh Abu Ali Al-Anbari, Syaikh Umar Asy-Syisyani, Syaikh Al-Adnani, atau nama-nama lainnya. Oleh karenanya, keliru kalau kaum muslimin menggantungkan urusan kepada orang atau tokoh tertentu. Sebab itu, jihad ini harus dibebaskan dari ikatan emosional atau kultus kepada para tokoh.

Adalah benar kita memang memerlukan komando (qiyadah) untuk mempersatukan mujahidin. Kita juga memerlukan kepemimpinan untuk menyusun langkah dan strategi. Tetapi hilangnya tokoh-tokoh di hirarki komando bukan berarti kemesraan kaum muslimin dengan jihad harus berakhir. Karena jihadlah yang melahirkan para komandan. Dengan terus berlangsungnya jihad kelak akan lahir juga komandan-komandan baru.

Lintasan sejarah Islam membuktikan; tidak ada satu zaman pun berlalu setelah wafatnya Nabi Muhammad, melainkan di sana ada singa-singa yang selalu membela agama ini, sampai-sampai tidak mungkin orang bisa mengatakan bahwa sebelumnya tidak ada singa-singa pembela agama. Para wanita muslimah tak pernah mandul untuk melahirkan orang-orang sekelas Umar bin Al-Khaththab, Ali bin Abi Thalib, Khalid bin Al-Walid, Miqdad, Ikrimah, Shalahuddin, Syaifuddin Quthuz, Yusuf bin Tasyfin, dan nama-nama ‘beken’ lainnya. Umat ini ibarat hujan, tidak bisa ditebak di mana berkah kebaikannya berada; apakah saat pertama kali turun atau ketika hujan mau berhenti.

Walaupun kaum muslimin kehilangan komandannya, mereka yang sudah tergembleng untuk tidak menggantungkan jihad dengan simbol tokoh akan semakin kokoh berjalan di atas manhaj dan jalan yang diyakini. Sebab mereka beribadah kepada Rabb yang mewajibkan jihad, bukan kepada komandan yang memimpin jihad. Komandan itu akan muncul di bumi pertempuran ketika dia sendiri menantang maut sebagaimana prajuritnya menantang maut, bahkan komandanlah yang senantiasa mencari kesyahidan, yang menunggu-nunggu hari kapan dia bertunangan dengan hur al-a’in (bidadari), menunggu saat-saat mulia untuk bisa melihat Allah robb semesta alam; para komandan itu sangat-sangat merindukan hari itu, ia berusaha meraih dan selalu mencita-citakannya.

Maka sudah tidak selayaknya kita menggantungkan jihad dengan orang atau mengikat suatu peperangan dengan tokoh. Jika Syaikh Abu Ali Al-Anbari, Syaikh Umar Ash-Shishani, dan Syaikh Abu Muhammad Al-Adnani gugur, maka seribu komandan sepeninggalnya akan muncul; menghentak gelanggang jihad dan segera menggempur kuffar! Mereka muncul setelah tertumpahnya darah para komandan, sebut saja Syaikh Abu Anas Asy-Syami, Syaikh Abu Mush’ab Az-Zarqawi, Amirul Mukminin Abu Umar Al-Baghdadi, Syaikh Abu Hamzah Al-Muhajir, dan nama-nama lainnya.

Syaikh Usamah bin Ladin Taqabballahullahu pernah mengatakan, “Dalam tubuh umat masih banyak perwira-perwira yang siap menjadi tumbal agama ini dengan menggadaikan nyawa dan apa saja yang dia miliki.”

Kematian tokoh tidak akan begitu saja melemahkan semangat juang para mujahid dan menghentikan perjuangan. Sepeninggal Rasulullah pun, Daulah Islam semakin ekspansif dan penaklukkan-penaklukkan banyak negeri senantiasa berlangsung. Islam semakin melebarkan sayapnya dan ekspansif. Rasulullah wafat, estafeta perjuangan diambil-alih oleh Abu Bakar Ash-Shiddiq. Kita menyaksikan keteguhan Abu Bakar memerangi kaum murtadin para penolak zakat, mengirim pasukan untuk menaklukkan negeri-negeri Persia dan Syam. Apakah wafatnya Rasulullah berpengaruh negatif di dalam jiwa kaum muslimin? Sekali-kali tidak! Seterusnya, wafatnya Abu Bakar pun tak memengaruhi semangat juang kaum muslimin. Daulah Islam semakin meluas dan syiar jihad tidak terpengaruh dengan wafatnya Ash-Shiddiq.Yang ada selanjutnya adalah periode kepemimpinan Umar bin Al-Khaththab yang sarat keadilan, kemenangan, dan penaklukkan berbagai negeri. Ketika Al-Faruq terbunuh, kaum muslimin justru semakin tersebar di seluruh penjuru dunia. Demikianlah seterusnya keadaan kaum muslimin dari generasi ke generasi.

Demikian pula dengan fase jihad kontemporer. Syahidnya Syaikh Abu Umar Al-Baghdadi (Amirul Mukminin sebelum Syaikh Abu Bakar Al-Baghdadi), Syaikh Abu Hamzah Al-Muhajir (mantan Menteri Perang Daulah Islam Irak), atau Syaikh Abu Mush’ab Az-Zarqawi tidak lantas menghentikan proyek jihad dan meruntuhkan bangunan Daulah Islam. Dengan disirami darah mereka, pohon Daulah Islam terus tumbuh berkembang. Akarnya semakin kuat menghunjam tanah, cabang-cabangnya semakin membesar, dedaunannya semakin hijau lebat.

Sungguh sangat mengherankan melihat kegembiraan kaum munafik dan kaum kuffar setelah mengetahui syahidnya para komandan dan umaraa`. Apakah mereka tidak mengambil pelajaran bahwa api jihad senantiasa berkobar meski ditinggal para pemimpin dan tokohnya. Tertumpahnya darah para komandan jihad justru membuahkan hasil manis dalam jihad, dan semakin mengokohkan bangunan Daulah Islam.

Tengoklah, baiat penuh berkah di antara jamaah-jamaah jihad di Irak berlangsung setelah syahidnya Syaikh Abu Anas Asy-Syami (penanggung jawab Lajnah Syar’iyyah Jamaah Tauhid wal Jihad yang merupakan cikal-bakal Daulah Islam). Daulah Islam Irak berdiri setelah tertumpahnya darah Abu Mush’ab Az-Zarqawi. Kemudian Daulah Islam Irak dan Syam dideklarasikan setelah gugurnya Amirul Mukminin Pertama Syaikh Abu Umar Al-Baghdadi dan Menteri Perang Syaikh Abu Hamzah Al-Muhajir. Sukhnah dan Tadmur dapat ditaklukkan setelah syahidnya Syaikh Abu Malik At-Tamimi. Daulah Khilafah semakin meluas dan menjadi tempat bernaungnya para mujahid muwahhid dari seluruh dunia, setelah syahidnya Hajji Bakr, Abu Usamah Al-Maghribi, dan kafilah syuhada lainnya. Ramadi dapat ditaklukkan setelah syahidnya Abu Muhannad As-Suwaidawi. Demikianlah, bangunan Daulah Islam justru semakin kokoh setiap kali seorang komandan gugur. Darah para pemimpin menjadi pembuka jalan bagi sejumlah kemajuan dan menjadi pengobar semangat tempur mujahidin.

Sekali lagi, jika kaum munafik dan kaum kuffar bergembira mendengar tewasnya para pemimpin kami, dan kami pun justru lebih sangat bergembira dikarenakan Allah telah memilih para pemimpin kami sebagai syuhada dan menganugerahkan mereka kebaikan. Bila kita pelajari lembaran-lembaran sejarah, kita mendapatkan bahwa syahidnya para pemimpin menjadi berkah bagi jihad dan mujahidin.

Wahai musuh-musuh Islam, Daulah Khilafah kini telah memasuki sebuah fase baru; ia semakin kuat dan kokoh. Wahai musuh-musuh Allah, kalian boleh saja bergembira, namun sesungguhnya gugurnya tokoh takkan melemahkan semangat balatentara Khilafah. Tekad mereka justru semakin kuat untuk menyempurnakan perjalanan para pendahulu mereka, sehingga mereka meraih apa yang dicita-citakan para pendahulu. Wahai kaum Salibis, kaum Rafidhah, kaum murtad dan kafir! Alih-alih melemah, kalian akan segera merasakan bahwa ribuan junud Khilafah memohon amaliyah istisyhadiyah dan masyarakat awam memohon senjata untuk bergabung di berbagai front. Kalian akan menyaksikan bahwa setiap front berkobar hebat dengan menggunakan banyak nama operasi “Syaikh Fulan”.

Wahai tentara Khilafah dan para pengusung jihad, bergembiralah dengan syahidnya para pemimpin dan komandan! Demi Allah, darah mereka tak ubahnya cahaya bagi mujahidin dan menjadi api yang membakar orang-orang kafir. Teguhlah kalian seperti teguhnya para pemimpin dan komandan kita.

Pasukan koalisi yang mengeroyok kita bukanlah sesuatu yang menakutkan kita. Gerombolan anjing takkan menyurutkan langkah kita. Kendati langit disesaki pesawat tempur musuh dan lautan dipenuhi kapal perang mereka, kita akan teguh berperang demi ajaran millah Ibrahim, demi agama Rabb Semesta Alam. Kemenangan dan tamkin akan diperoleh setelah bersabar atas segenap ujian. Setelah mendung, maka pelangi indah akan menghiasi langit. Kelak kita akan mendengar suara takbir menggema di Roma dan Gedung Putih. Kita akan melihat senyuman menghiasi wajah para muwahhid. Kita akan menyaksikan nestapa menimpa orang-orang kafir. Sesungguhnya mereka memandang siksaan hal itu jauh (mustahil). Sedangkan kita memandangnya itu dekat.

Kita memohon kepada Allah agar menerima amalan para ikhwah syuhada kita, menggabungkan kita bersama mereka, dan mengokohkan kita di atas al-haqq di kala banyak orang terkena fitnah. Aamiin, ya Mujibas-Saa`iliin. [Tepian Sungat Al-Furat, 19 Rabi’ul-Awwal  1438 H/Ketika secercah ‘kerinduan’ kembali membuncah]