Inilah Doa Berbuka Puasa yang Shahih & Utama

Oleh: Ustadz Abu Raihan

(Manjanik.net) – Sahabat situs online Manjanik.net yang senantiasa dirahmati Allah, tak terasa kita telah memasuki bulan Ramadhan 1437 H. Berbuka puasa menjadi waktu yang sangat ditunggu-tunggu ketika Ramadhan tiba. Bagaimana tidak, setelah seharian menahan lapar dan dahaga, menyantap hidangan berbuka menjadi kebahagiaan tersendiri.

Sebelum menyantap hidangan, umat Islam biasanya akan mengawalinya dengan berdoa terlebih dahulu. Selama ini, doa termasyhur saat berbuka puasa berbunyi Allahumma laka shumtu wa bika aamantu dan seterusnya. Doa ini sering muncul di media baik cetak atau televisi menjelang memasuki waktu berbuka.

Namun tahukah kita, ternyata doa berbuka yang terkenal ini tidak menjadi jaminan shahih derajatnya. Bahkan dikatakan bahwa doa tersebut dho’if sehingga amalan tidak bisa dibangun dengan do’a tersebut. Lantas seperti apa doa yang benar dan sesuai dengan ajaran Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam? Berikut ringkasannya.

Memang, Allah lah yang memiliki hak prerogatif memberikan pahala atas doa berbuka puasa yang diucapkan. Namun, hendaknya kita mengikuti apa yang sudah diajarkan oleh Rasulullah.  Doa berbuka puasa yang masyhur dan terkenal yang berbunyi:

اللهم لك صمت وعلى رزقك أفطرت ” فقد رواه أبو داود

“Allahumma laka shumtu wa bika aamantu wa ‘ala rizqika afthortu” (Yaa Allah, kepada-Mu aku berpuasa dan kepada-Mu aku beriman, dan dengan rizki-Mu aku berbuka).”

Dari Mu’adz bin Zuhrah, sesungguhnya jika Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berbuka puasa, beliau membaca (doa), ‘Allahumma laka shumtu wa ‘ala rizqika afthortu’ (Yaa Allah, untuk-Mu aku berpuasa dan dengan rezeki-Mu aku berbuka)”. (HR. Abu Daud 2/316, no. 358)

Hadits diatas dan yang semisal juga dikeluarkan oleh Ath-Thobroni dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu. Namun sanadnya terdapat perowi dho’if yaitu Daud bin Az-Zibriqon, dia merupakan seorang perowi matruk (yang dituduh berdusta). Jadi riwayat ini juga dho’if.

Sementara menurut Mulla ‘Ali Al Qori “Tambahan ‘wa bika aamantu‘ adalah tambahan yang tidak diketahui sanadnya dan tidak jelas serta ada Rawi yang lemah dan pendusta”. (Mirqotul Mafatih, 6/304-ed.)

Mua’dz ini tidaklah dianggap sebagai perawi yang tsiqah (dipercaya). Keterangan lainnya menyebutkan bahwa Mu’adz adalah seorang tabi’in. Sehingga hadits ini mursal (di atas tabi’in terputus). Hadits mursal merupakan hadits dho’if karena sanad yang terputus.

Lantas seperti apa doa berbuka puasa yang shahih dan lebih utama untuk diucapakan kaum Muslimin sebelum berbuka puasa? Berikut ini adalah doa berbuka puasa yang sesuai dengan tuntunan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam,

ذهب الظمأ وابتلت العروق وثبت الأجر إن شاء الله 

“Dzahabazh zhoma’u wabtallatil ‘uruqu wa tsabatal ajru insya Allah” (Telah hilanglah dahaga, telah basahlah kerongkongan, semoga ada pahala yang ditetapkan, jika Allah menghendaki)”. (Hadits shahih riwayat Abu Daud [2/306, no. 2357] dan selainnya; lihat Shahih al-Jami’: 4/209, no. 4678)

Periwayat hadits ini adalah Abdullah bin Umar radhiyallahu ‘anhuma. Pada awal hadits terdapat redaksi, “Abdullah bin Umar berkata, ‘Jika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berbuka puasa, beliau mengucapkan ….‘”

Menurut sejumlah ulama, doa ini dibaca ketika sesudah membatalkan puasa dengan cara memakan kurma atau minum air. Sementara saat akan berbuka, cukup dengan mengucapkan bismillah. Hal ini seperti hadits dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu,

كَانَ رَسُو لُ اللِّهِ صَلَّى اللَّهً عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُفْطِرُ عَلَى رُطَبَاتٍ قَبْلَ أََنْ يُصَلِّيَ فَإِنْ لَمْ تَكُنْ رُطَبَا تٌ فَعَلَى تَمَرَاتٍ فَإِنْ لَم تَكُنْ حَسَا حَسَواتٍ مِنْ مَاءٍ

“Rasulullah pernah berbuka puasa dengan ruthab (kurma basah) sebelum shalat, kalau tidak ada ruthab, maka beliau memakan tamr (kurma kering) dan kalau tidak ada tamr, maka beliau meminum air, seteguk demi seteguk”. (HR. Abu Dawud no. 2356)

Doa berbuka shahih lainnya yang bisa dibaca adalah “Allahumma inni as-aluka bi rohmatikal latii wasi’at kulla syain an taghfirolii” (Yaa Allah, aku memohon rahmatmu yang meliputi segala sesuatu, yang dengannya engkau mengampuni aku](HR. Ibnu Majah: 1/557, no. 1753; dinilai hasan oleh al-Hafizh dalam takhrij beliau untuk kitab al-Adzkar; lihat Syarah al-Adzkar: 4/342)

Semoga informasi ini menjadi pengetahuan baru bagi sahabat situs online Manjanik.net semuanya. Semoga Allah Subhanahu Wa Ta’ala senantiasa memberikan kita kekuatan untuk beribadah dan juga meningkatkan kualitas ibadah kita pada bulan Ramadhan 1437 H ini, aamiin.. Wallahu A’lam…