Siapakah Kelompok Maute yang Menyerang Paspampres Duterte & Kuasai Kota Butig Filipina?

MANILA (Manjanik.net) – Pemerintah Filipina khususnya dan dunia pada umumnya dibuat heboh dengan kehadiran dan keberadaan kelompok bersenjata Maute yang terkait dengan Daulah Islam/Islamic State (IS). (Baca: 9 Paspampres Duterte Tewas Usai Diserang Kelompok Bersenjata Maute di Marawi?)

Sebab, kelompok bersenjata ini dengan berani menyerang pasukan pengamanan presiden (paspampres) Filipina, Rodrigo Duterte dan menewaskan 9 tentara dalam serangan ledakan bom pinggir yang menghantam konvoi mereka pada Selasa (29/11/2016) kemarin pagi di Kota Marawi City di Lanao del Sur.

Tak cukup sampai disitu, kelompok bersenjata Maute pada Jum’at (25/11/2016) juga secara mengejutkan melakukan penyerangan terhadap tentara Filipina di Kota Butig, dan berhasil menguasai balaikota dan sejumlah gedung pemerintahan lainnya.

Lalu siapakah sebenarnya kelompok Maute ini dan dari mana mereka berasal?

dalam rilis resminya, Duterte menyatakan bahwa kelompok Maute adalah jaringan kelompok bersenjata yang berafiliasi dengan IS. Mereka sebelumnya merupakan mantan anggota Moro Islamic Liberation Front (MILF), kelompok separatis berideologi Islam tertua di Filipina. Kelompok ini sebenarnya menyebut diri mereka sebagai “Daulah al-Islamiyah”.

Julukan “Maute” mengacu kepada dua pemimpin kelompok ini yaitu kakak beradik Abdullah dan Omar Maute. Omar sendiri diberitakan sudah gugur saat markas kelompok ini diserbu oleh militer Filipina pada Februari 2016 lalu. Namun, banyak pihak meyakini bahwa sang pemimpin kharismatis yang dipercaya sebagai motor utama kelompok ini masih hidup.

CNN melaporkan bahwa kemunculan kelompok Maute dimulai pada tahun 2013 lalu. Saat itu, mereka menyerang sebuah pos penjagaan militer di kota Madalum, provinsi Lanao del Sur. Namun, setelah itu nama mereka seakan timbul tenggelam.

Kelompok Maute kembali diperbincangkan saat markas mereka diserbu oleh tentara Filipina dalam operasi militer selama 10 hari pada Februari 2016. Operasi tersebut dikabarkan membuat 50 orang anggota kelompok Maute meninggal, termasuk salah satu tokoh kuncinya, Omar Maute. Penyerbuan ini selanjutnya memicu serangkaian aksi balasan dari kelompok ini sepanjang 2016.

Tahun 2016 menjadi tahun tersibuk bagi kelompok Maute. Mereka melancarkan serangkaian aksi dan serangan, mulai dari penculikan dan pemenggalan dua pekerja tambang pada April 2016, hingga penyerbuan penjara untuk membebaskan anggotanya pada Agustus 2016 lalu. Kelompok Maute juga mulai menggunakan bom sebagai sarana aksi lewat pengeboman sebuah pasar di Davao pada 2 September 2016 serta upaya pengeboman Kedubes Amerika di Manila pada 25 November 2016 lalu.

Joseph Franco, peneliti senior di S Rajaratnam School of International Studies Singapura dalam tulisannya di New Mandala memaparkan bahwa kelompok Maute sebelumnya bernama Khilafah Islamiyah Movement (KIM). Kelompok ini terkenal kerap memeras perusahaan-perusahaan bus di wilayah Lanao del Sur untuk memperoleh logistik.

Perubahan nama menjadi “Daulah al-Islamiyah” terjadi saat kelompok ini menyatakan kesetiaannya kepada pemimpin tertiiggi IS, Khalifah Ibrahim bin Awwad atau Syaikh Abu Bakar Al-Baghdadi lewat mekanisme bayah. Peralihan nama dan bayah kepada IS selanjutnya mengubah karakteristik kelompok Maute dari organisasi kriminal murni menjadi kelompok berideologi Islam.

Kelompok Maute juga mengadaptasi metode-metode IS seperti penculikan dengan tebusan serta pemenggalan kepala. Aksi-aksi ini, selain ditujukan untuk menebar teror dan mendapatkan tebusan, diyakini juga dilakukan untuk menarik perhatian para petinggi IS di Timur Tengah.

Pemerintah Filipina sendiri juga mengamini bahwa kelompok Maute memiliki hubungan dengan Islamic State (IS) di Suriah dan Iraq. Hal ini disampaikan langsung oleh Presiden Duterte sendiri beberapa waktu lalu.

“Komunitas intelijen memberitahu saya bahwa IS telah terhubung dengan kelompok di Filipina yang disebut Maute. Sekarang kita melancarkan perang sekarang di Lanao,” kata Duterte, seperti dikutip Philstar pada Senin (28/11/2016).

Seperti diberitakan oleh Antara, Duterte dalam beberapa waktu belakangan berulang kali menyatakan kemungkinan Filipina dijadikan markas baru IS di Asia. Dia menegaskan negaranya harus menghindari “pencemaran” IS, sebagaimana yang saat ini terjadi kepada Malaysia dan Indonesia.

Kepala Angkatan Bersenjata Filipina, Jenderal Eduardo Ano sempat menyebut bahwa kelompok Maute hanyalah kriminal biasa dan bukan bagian dari IS. “Mereka hanyalah sekelompok pembunuh bayaran, pemeras, dan bandit yang ingin dilihat sebagai IS,” tandasnya kepada laman Mindanews.

Namun belakangan ini, militer Filipina ikut meyakini afiliasi kelompok Maute dengan IS. Dalam hampir setiap penyerbuan ke markas kelompok ini, militer Filipina selalu mengaku menemukan atribut-atribut IS seperti poster, buku-buku jihad, hingga bendera IS.

Selain itu, militer di wilayah Lanao del Sur sempat menangkap beberapa orang yang diduga anggota Maute pada bulan lalu. Dalam penangkapan tersebut, mereka juga menemukan beberapa video pendek berisi penyataan sumpah setia anggota Maute kepada IS.

Jalinan Kekerabatan dengan MILF

Hampir seluruh kelompok bersenjata di Filipina Selatan, baik yang menjunjung ideologi Islam maupun nasionalisme, biasanya memiliki pertalian darah. Sebuah keluarga di Mindanao seringkali memiliki anggota keluarga yang tergabung ke dalam MNLF, MILF, atau Abu Sayyaf sekaligus. Pertalian darah ini pula yang membantu mengembangkan jaringan mereka, membantu perekrutan anggota baru, sekaligus saling melindungi dari kejaran aparat.

Disisi lain, kelompok-kelompok bersenjata di Filipina juga cenderung mengalami perpecahan yang sangat akut. Kelompok-kelompok militan ini, khususnya yang muncul setelah Moro National Liberation Front (MNLF/kelompok militan tertua di Filipina), biasanya adalah sempalan yang keluar dari kelompok separatis yang muncul lebih dulu.

Sebagai contoh, MILF adalah sempalan dari MNLF yang didirikan karena menganggap MNLF terlalu lembek dalam berunding dengan pemerintah Filipina. Selanjutnya, Abu Sayyaf (yang berafiliasi dengan Al-Qaeda) menyempal dari MILF karena kelompok itu dianggap kurang militan dalam memperjuangkan umat Islam di Moro.

Kelompok Maute sendiri merupakan sempalan dari MILF. Namun, alasan mereka untuk menyempal dari MILF dan berafiliasi dengan IS sendiri masih belum diketahui. Satu hal yang pasti, elite-elite MILF dan kelompok Maute ternyata memiliki hubungan darah.

Jannati Mimbantas, tokoh senior MILF sekaligus pimpinan North Eastern Mindanao Front menyatakan bahwa dua bersaudara pimpinan Maute, Abdullah dan Omar Muate adalah sepupu dari Azisa Romato. Azisa sendiri adalah istri dari Wakil Ketua Urusan Militer MILF, Alim Abdul Aziz Mimbantas yang juga adalah kakak dari Jannati Mimbantas.

Seperti diberitakan jaringan media ABS-CBN Filipina, Jannati sendiri mengaku bahwa duo Abdullah dan Omar Maute dulunya merupakan anggota MILF. Ia sendiri memaparkan bahwa keluarga Maute datang dari latar belakang kelas menengah yang berpendidikan cukup tinggi, sehingga ia meragukan klaim bahwa mereka telah berafiliasi dengan ekstrimis seperti IS.

Disisi lain, investigasi dari ABS-CBN mengungkapkan ikatan yang lebih dalam lagi antara MILF dan Maute. Salah satu sumber mereka menyebutkan bahwa Abdul Aziz Mimbantas memiliki seorang putri yang akhirnya menikah dengan Sanusi, pria berkebangsaan Indonesia yang disebut-sebut sebagai pimpinan Jamaah Islamiyah di Mindanao. Sanusi sendiri merupakan mentor bagi Abdullah dan Omar Maute.

Jannati Mimbantas menolak hasil investigasi tersebut. Ia menegaskan bahwa MILF tidak memiliki hubungan apapun dengan kelompok Maute apalagi IS. Saat markas kelompok Maute digempur oleh militer Filipina pada awal tahun ini, MILF memilih untuk menyingkir dari wilayah pertempuran karena markas MILF sendiri terletak tak jauh dari tempat itu.

Ketika markas kelompok Maute digeledah seusai serangan, tentara menemukan satu jenazah yang menggunakan seragam MILF. Terkait temuan tersebut, Jannati mengaku bahwa MILF secara organisasi tidak terlibat ke dalam pertempuran antara militer Filipina dan kelompok Maute. Namun, ia tidak bisa menghalangi jika ada anggota MILF yang ingin menyelamatkan keluarganya yang menjadi anggota kelompok Maute di dalam pertempuran itu. [SS/dbs]